Selasa, 28 Juli 2015

Diedit Kutipan Dilan



Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, 

tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kudapati dari hal itu. 
Masa lalu bukan untuk diperdebatkan. Itu sudah bagus. Biarkan.

Fakhri,

Kalau dulu aku berkata bahwa aku mencintai dirimu, maka kukira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah amat lengkap dan berlaku tidak hanya sampai di hari itu, 

melainkan juga di hari kita sudah tak bersama, dan untuk selama-lamanya.

Karena, sekarang aku mungkin bukan aku yang dulu, waktu membawa aku pergi, tetapi perasaan tetap sama, bersifat menjalar, hingga ke depan!
Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku.
Bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu!

Fakhri,

Terima kasih, kau pernah mau kepadaku.

Dan kini, biarkan aku, kalau selalu ingin tahu kabarmu!

Kupejamkan mataku untuk bisa seolah-olah kau sedang bersamaku. 

Angin Desember berhembus menerpa kenanganku. 
Sepi sekali rasanya dan kemudian hanya itu.

Secepat itukah? Hah?! Aku rindu!

Kau harus tahu itu.

Jumat, 08 Mei 2015

Ketika 2

Ketika 1

Cakrawala Bayangan

Ketika sapaan itu ada dalam benakku, baru saja cakrawala mengibarkan semangat paginya. Aku berlari menuju sapaan yang semakin bising menghantuiku. Riuh kicaunya sapaan itu memekakan telingaku. Ah aku benci hal ini.

Tuhan, Aku mau hidup sekali saja penuh dengan keheningan. Tanpa bising gonggongan orang lain. “doa Akmi dalam benak”, kala itu akmi sedang asyik bercengkrama dengan ribuan kata untuk disusun menjadi kalimat indah di kamarnya.

Aku benci berada dalam keluarga ini, Ibu tak pernah menemaniku walau sejam pun, Ayahku telah lama meninggalkan Ibuku, kini aku sendiri, ya sendiri. Aku rindu sosok Ayah tapi aku benci Ayahku. Mereka bukan lagi seperti orang tuaku, mereka hanyalah dua sosok bayangan yang terus menghantuiku.

Ibuku seorang mucikari yang setiap malam harus keluyuran mencari bercak rupiah, itulah yang menyebabkan kenapa Ayah meninggalkan Ibuku. Aku sering berdoa pada Tuhanku, mengadu, bahkan menangis di hadapan sajadah. Entah apa yang ada di pikiran Tuhanku ia tak kunjung mengabulkan doaku untuk mati saja sekalian! Bunuh aku Tuhan jika ini memang cara-Mu, rampok semua kebahagiaanku jika ini memang jalan-Mu. Aku akan jauh lebih bahagia dibandingkan harus berada di goa yang gelap ini.

Ah Tuhan, aku marah pada manusia di dunia ini, mereka tak mengerti keadaanku, alhasil mereka menjauhiku bahkan tak menegurku sedikitpun. Apa engkau sama dengan mereka? Kini Aku sendiri Tuhan, berjalan dalam gelapnya lorong waktumu, Aku tetap kuat namun jiwaku rapuh Tuhan.

Kini aku hanya punya engkau Tuhan, tempat berbagi segala dukaku yang tak pernah berkesudahan. Tuhan ajari aku untuk membenci Ibu dan Ayahku, sekarang Tuhan, sekarang!!!

Enambelas tahun Aku hidup dalam kubangan yang tak berkesudahan ini, enambelas tahun pula aku terus menangis dalam sajadahku, entahlah kuhadapkan wajahku kepada-Mu atau kuhadapkan pada wajah yang lain, Tuhan.

Aku memutuskan untuk pergi dari rumah, setelah kejadian yang membuatku teringat hingga sampai saat ini. Ya, kejadian ketika aku melarikan diri dari rumah hingga akhirnya aku dipukuli oleh Ibuku sendiri, trauma dan sesak ini masih kurasakan. Sekarang usiaku menginjak duapuluhenam tahun, beberapa tahun yang lalu kulalui dengan kehidupan baruku.

Tanpa sosok Ibu dan Ayah. Aku berkelana mencari kebahagiaanku sendiri. Kini aku mulai merasa hidup dari beberapa tahun yang lalu, aku memutuskan pergi ke pulau seberang, mengabdikan diriku pada pendidikan. Kurasa dahulu Ibu dan Ayahku tak berpendidikan, itu sebabnya mengapa mereka seperti itu. Ayahku makelar judi tersohor di kampungku dulu.

Aku tinggal di daerah sangat jauh dari perkotaan, bahkan kendaraan pun sulit untuk ditemui. Nama desaku, desa Blitor, pedalaman yang terpinggirkan, bagian dari Ibukota Kalimantan. Di sini sangat asri, pepohonan menari-nari dalam jemari, burung-burung berkicau tiap pagi dan petang, tiupan angin berhembus menusuk tulang rusuk yang paling rapuh sekalipun. Aku merasakan jauh lebih baik kini, dan tak ingin kukotori dengan ingatan yang dulu.

Para penduduknya masih memegang erat tradisi, tiap pagi mereka sembahyang di tempat yang sudah disediakan, meskipun sederhana dan tak terurus. Para anak kecil pun membantu Ibunya untuk menjunjung sesembahann yang dibawa, entah itu berupa bunga-bunga ataupun makanan daerah. Pendidikan jauh dari kata mewah, yang ada hanya kata seadanya.

Tuhan Aku bebas, ya, Aku bebas.


Rabu, 06 Mei 2015

Bagian kedua: Fototustel Gingsul Kanan



        Assalamualaikum gingsul, lama tak bersua denganmu. Inginku bercengkrama dengan kesanksian untuk bergulat di hadapanmu. Kukira dirimu menghilang dalam imajiku, ternyata kau kembali ke hadapanku. Yaa kini kau kembali. Bukan saja untuk menemuiku, tapi untuk tetap berada dalam llingkaran yang sama, lingkaran yang membuat kita terus berhadapan.

            Baru saja sore tadi aku hadapkan linangan bola mataku tepat segaris lurus denganmu, bukan inginku yang terus menatapmu. Tapi, diam tingkahmu yang ingin membuatku berada dekat di garis lurus itu. Ah tidak, senyummu membuatku semakin tersipu dalam imajiku. Merongrong dan mengaum dalam batinku. Hanya aku yang tahu auman itu.

            Diammu seperti manusia yang bertasbih, tutur katamu seakan butiran embun yang disinari kilaunya sang surya, yaa tepat di bibirmu. Kurasakan hangatnya sapaanmu. Tenang dan syahdu. Gingsul itu menandakan akan adanya senyum tulus yang menghiasi tutur katamu. Yaa kau pemilik gingsul itu.

            Kubuka dengan guyonan hangat yang memekakan telinga, tanpa kupandangi dirimu dan tanpa aku lihat gingsul itu. Aku hanya ingin melihat gingsul itu ketika mulai terjamah pada sudut yang tak bisa ditawar, yaa itu adalah rinduku.

            Jika kini semangatku belum sepenuhnya ada diraga dan rohku, maka gingsul itulah yang membuatku menjadi sepenuhnya. Ketika nama hanya sebuah panggilan, maka raga dan roh inilah yang seharusnya kau panggil untuk aku terus di hadapanmu. Dalam mencari tujuan hidup yang sesungguhnya dan untuk terus berhadapan segaris lurus denganmu.

            Terus berada di hadapanmu membuatku semakin tertawa lebar dan terus tersenyum. Dengan datarnya tutur katamu tetap saja membuatku tersipu senyum sendiri, menjadi seperti tak berakal lantas hilang dan lenyap dalam lamunan. Ah, kau membangunkan lamunan itu dengan sejuta tanya tentang siapa kita,mengapa Alloh menciptakan,  apa tujuan hidup ini, dan mengapa kita hidup di dunia!

Sejuta tanyamu membuatku berpikir sangat keras, bahkan tak sempat terpikirkan, dan tak sempat terjawab. Yang ada hanya lamunan tentang gingsul yang sangat amis. Aku bahagia gingsul, melihatmu berkotak-kotak biru keabuan pagi ini,dengan balutan jeans dan jaket coklat keabuan yang melilit tubuhmu, serta ransel yang menggantung di pundakmu*manusia ketika*
           
Beginilah cara rohku mengungkapkan kekaguman ini, kekaguman pada sosok gingsulmu. Jangan kau benci ataupun murka terhadapku, karena ini adalah ruang kebebasan, untukku terus berimaji dalam khayalan yang sungguh membuatku tergelitik untuk terus mengetik kata-kata ini.

Terima aksih kepada Mahacinta yang telah mempertemukan kita saling berhadap-hadapan pada ikatan persaudaraan sesama Islam.


Avonturir: orang yang suka melakukan petualangan


Gingsul kedua, Tiga Mei 2015

Selasa, 10 Maret 2015

Fototustel Gingsul Kanan



Bergulat dengan rasa. Memecah keheningan dalam kalbu, ada hal yang menggelitik. Kau ah kau dan kau. Rasanya aku ingin meraih titipan salam dari sang alam. Kau nyata dalam imajinasiku. Salam kenal hai pemilik gingsul yang manis. Rasanya aku baru kali pertama melihatmu, namun sudah miliaran kata yang ingin aku ucapkan padamu. Melayang dalam mimpiku kau berkelana dalam jemariku, menari-nari dalam melodi sanksi. Keceriaan itu membalut kesanksianku untuk mampu berada di hadapanmu, di hadapan si pemilik gingsul itu.

Penjelajah, itulah kata yang pantas untukmu. Kau bukanlah ksatria yang ada dalam dongeng, bukan juga pangeran yang ada dalam cerita Barbie, namun kau nyata ada di dunia yang semakin usang. Memekakan telingaku jika kau pergi mencari buruan yang ntah apa yang kau cari!

Lama dalam hadapan, aku semakin takut denganmu. Ya, aku takut serakah untuk dapat memilikimu. Bagaimana mungkin aku tak tertarik denganmu, sejengkalpun kau jauh rasanya ada yang hilang dalam hadapanku. Memutar-mutar dalam angan yang bisu. Aku tak kuasa meronta dalam batin, meronta untuk tak serakah memilikimu.

Lama tak jumpa dengammu, kucari ke sangkarmu kiranya ternyata kau sedang menjelajah. Terbatas dalam khayalku kau ada di tempat itu. Tempat awal aku mengenalmu, saat kau tepat di depanku ketika magrib telah tiba. Saat kau yang bertanya kiranya aku datangkah ke sangkarmu. Saat ketika aku ingin melihat gingsulmu itu. Ya saat itu.

Rasanya hambar. Pedaspun tak terasa, yang ada manis ketika kilauan gingsul itu mulai menepi tepat di palung raga ini. Harus seperti apa aku ini? jika aku serakah untuk menggenggammu? Namun, ketika aku genggam semakin erat, engkau malah mencoba melepaskan genggaman itu, dan ntah ke mana langkahmu bermuara itu. Air putih yang aku teguk rasanya terlihat manis ketika kau pegang dan kau sediakan untukku kala itu. Aku tak pandai merangkai kata, bahkan aku tak pandai menyembunyikan kisah ini sendiri!

Semoga datangnya keserakahan itu membuatku berpikir, bahwa kau hanyalah anganku yang hanya ada di hadapanku. Bukan ada di genggamanku. Jangan kau minta aku menghentikan angan ini, biarkan aku terus hidup dalam bayangmu. Cukuplah begini, karena hanya dengan ini aku bisa lebih dekat denganmu. Sampai esok kita kan berhadapan lagi.

Mengusik kesendirianku, ah mungkinkah aku merindunya? Ataukah hanya angan-angan melayang? Terima kasih untuk inspirasi gingsulmu malam ini. Sekian.



Gingsul, edisi Maret 2015