Kamis, 05 Oktober 2017

Retorika Hati esde


Terima kasih untuk tiga tahun yang berkesan, mulai dari tidak tahu apa-apa sampai tahu bagaimana dalamnya lingkup esde, mulai dari penyapaan menggunakan kata yang halus, tersenyum manis pada perempuan yang singgah di hadapanku menyodorkan secarik kertas dan sejumlah uang, teriakan ketidaksukaan maupun kesukaan akan suatu hal, dan banyak ilmu serta pengalaman yang kalian gores dalam diri. Banyak khilaf yang kuperbuat, itulah aku (baca: tidak sempurna)

Untuk perempuan yang banyak mengajariku kata manis, baik, dan halus. Terima kasih untuk tulusmu telah mau mendampingiku di tiap sulit senangku. Maaf kadang aku juga khilaf akan mulut ini. Kau perempuan kuat yang pantas untuk ditempatkan tertinggi. Jangan gentar akan bisikan manusia yang tak mengindahkanmu, bahwa sesungguhnya kau hebat membantu mereka yang padahal tak mengindahkanmu (baca: dasar manusia) bisanya ngerumpi tak terima kasih.

Ummi yang baik, menyejukkan, dan cenderung cerewet kalau bicara tiada henti, terima kasih sudah percaya ke Pola selama ini. Maaf kalau Pola sering lupa untuk banyak hal. Makasih untuk endomih pake irisan cabai yang mengenyangkan nikmat dikala lapar. Terima kasih sudah membantu perbulannya dipotong tiap tanggal sepuluh. Ummi istri surga, insyaAlloh.

Untuk pagar yang selalu didorong majumundur, untuk lantai yang dipel hingga wangi, terima kasih kalian orang baik yang Pola kenal. Semoga Alloh mengindahkan kalian dengan tulusmu yang bercucuran. 


Hah Pola cengeng

Senin, 02 Oktober 2017

Oktober Satu


Ada yang tak biasa pada malam ini. Sebab malam ini ibuku menyampaikan sesuatu, awalnya ibuku memanggil adikku yang berada di kamar, sebab aku sudah ada di sampingnya. Kemudian ibuku menyampaikan kepada kami "kelak ketika kalian punya anak, tolong ajarkan anak kalian tentang agama, jangan seperti ibu bapak kalian saat ini"

Seketika langsung sedih soalnya di saat itu lagi muter mutotal surat Ar Rahman. Nangis? Nahan, tapi air mata ngembeng. 

Sambut bapakku "tuh dengerin, sampein ke cucu ibu bapak nanti bahwa neneknya dulu pernah berpesan kalau cucunya disuruh belajar agama" kan nanti nenek engkongnya bakalan meninggal. Huhuhuhu Pola gak bisa nahan tangisan di situ -___-

Ibuku tertawa geli mendengar perkataan bapakku, kutimpali juga dengan tawa (baca: pengalihan). 

Lantas ibuku bilang, "pokoknya udah diingetin dari sekarang"

Langsung aku membelakangi mereka dan menyeka air mata dengan lengan baju.

Adikku hanya menjawab "iya iya iya, emang begitu"

Begitulah percakapan kami malam ini, siapapun nanti yang akan mendampingi aku dan adikku, semoga kami belajar lebih baik dan mampu menjalankan apa yang sudah mereka (ibu bapakku) sampaikan. Aamiin

Mas, aku nunggu kamu loooh. Eaaah hahaha

Minggu, 10 September 2017

Septemberku

Alloh ini rencanamukah? Jika iya tolong jangan hentikan betapa nikmatnya hari ini.

Alhamdulillah bisa ngajak ibuku milih apa yang ia mau, lantas kuajak makan ke tempat yang memang sudah lama kuinginkan. Alhamdulillah, sebentar tapi rasanya kalau sama perempuanku itu tak tergantikan. 

Awalnya sih takut, belakangan ini mimpi yang gak enak terus (baca: mungkin karena gak baca doa kali Pol, ntah). Aku selalu bilang ini hari terakhir, ntah sadar atau engga dari beberapa kawan dan teman, aku selalu ucap gitu (Pola mau terakhir kalinya kayak gini) ntaaaah

Lagi, malam datang dengan heningnya sampaikan rintihan rindu pada manusia yang mungkin sampai atau tidak kugapai nanti. Ia manis seperti senyum yang kuguratkan. Terima kasih.
(baca: mas, kenapa kamu datang lagi di saat aku sudah lupa bagaimana caramu menyapaku di ponsel. Ah)

Selamat September, aku sayang kalian bu pak dek mas, semuanyaaa~

Minggu, 27 Agustus 2017

Pembimbing di Sewaka Darma

Dua jam bersama. Lagilagi hanya mampu berucap alhamdulillah, masih banyak manusia yang peduli.

Awalnya ke kampus ingin ketemu dua manusia untuk bahas pertunjukan akhir Agustus nanti, tapi Alloh punya rencana lain, tibatiba aku ketemu teman dan beliau bilang "buruan Pol bimbingan, si bapaknya udah mau ke Bandung" seketika es milo yang lagi dipesan dikeep dulu, langsung ke prodi. Ketemulah dengan pak dosen cerdas yang baik hati keilmuannya.

"pak, saya mau bimbingan"
Setelah panjang lebar cerita a sampai z, bergegaslah sholat magrib. Alhamdulillah tercerahkan.

Pukul 18.43 pak dosen dan saya pulang bareng, sebab pak dosen tidak bawa kendaraan, beliau langsung dari Bandung ke tempat tujuan untuk bertemu anakanak bimbingannya.

Sebelum pulang, pak dosen mengajak untuk ngopi sebentar. Bergegaslah kami ke salah satu kafe kopi di pinggir jalan yang enak untuk kongkow santai sambil menikmati mudamudi bersua.

Pas datang sepi, lantas ramai, tambah terbawa arus obrolan yang benarbenar berkelas, bukan hanya bercerita sejarah tapi juga sastra yang ternyata sastra itu bikin kita bahagia Pol, katanya.

Aku butuh halhal seperti ini, diingatkan akan keberadaan sastra dan hal yang harus diselesaikan (baca: skripsi)

Sejam, duajam, tiga puluh menit berlalu. Kopi tanpa gula yang dipesan pak dosen sudah resap dan milk hot yang kupesanpun sudah setengah gelas kunikmati. Perbincangan hangat yang melegakan, banyak perihal kampus yang dibahas, juga realita yang ada.

Pola pikir itu menentukan kualitas diri, hanya ada dua pilihan kapok atau mencoba lagi meskipun malu! Usaha, doa, dan ikhtiar.

Beliau jugalah yang membawaku ke Bandung bertemu dengan sastrawan Bandung, mengilingi indahnya Bandung bersama kawan dan pak sopir pintar di sana. Alhamdulillah masih ada orang baik, jazakillah.

Banyak pelajaran yang kudapat malam ini, di saat yang lain sedang berlombalomba untuk mengusaikan skripsinya bahkan banyak yang sudah usia, aku sempat bilang "pak, saya ngerasa beban ngerjain skripsi ditambah lagi laporan sekolah saya yang juga rumit"
Beliau membalas "Pola pasti bisa, yakin pasti bisa"

Dan disitulah saya yakin, pasti Pola tepat pada waktunya. Aamiin ya Alloh~

Patah, lagi?

Jika saja hari itu aku lebih lama menyapamu, mungkin takkan ada jeda antara kita. Aku lelah, tidak kau hiraukan. Oke akhirnya aku mengalah pernah mengharapkanmu hingga akhirnya kurasa kau tak seasik dulu. Kenapa? Ntahlah.

Kurasa aku yang berubah, tapi ntahlah, mungkin aku yang terlalu berlebihan untuk pertemanan yang biasa saja yang kuanggap kau istimewa, bahkan bagi keluargaku, di saat semua setuju perlahan kau berjalan mundur, dan lepas dari pertemanan ini. Ah

Alloh, padahal sepertigaku pintanya dia. Tapi kenapa berjarak? Kurasa doaku masih belum maksimal untuk ia yang istimewa.


Minggu, 13 Agustus 2017

Duabelas Agustus

Bersama perempuan yang teramat kukagumi sepenuh hati. Ibuku. 

Kami masuk ke ruang yang sudah menyebutkan nama ibuku. Bingung, karena aku baru kali pertama. Ibuku duduk di tempat yamg sudah disediakan. Ada pertanyaan dari dokter yang mengecek ibuku, lantas aku tak bisa jawab langsung. Aku bertanya balik. Dokter bilang tidak jadi masalah dalam Islam. Aman kok. Tapi ibuku merasa khawatir, hingga akhirnya pilihanpun jatuh ke pilihan yang kedua.

Aku pun ikut untuk perbaiki semuanya, merasa eneg hingga mengeluarkan cairan yang buatku mual. Huuuuuuuh. Maklum pertama kali.

Pengalaman terbaik bersama perempuanku. Aku khawatir makanya aku bicara seperti itu, aku takut kehilanganmu, aku hanya berpurapura tegar ketika bicara seperti itu, sebab kalau sudah waktunya aku yang khawatir, kau pun lebih khawatir.

Kamis, 10 Agustus 2017

Hmm Agustus-an

Sudah Agustus, aku khawatir. Jujur jadi lebih kepikiran, sedangkan tugas satunya buat badan jadi lebih ringan, subhanalloh kuatkan Yaa Alloh. Mungkin resah ini akan usai jika semua terselesaikan, pasti.

Gelisah, gak karuaaaaaaaan -___-

Laa ilaahailallahul 'adziimul haliim laa ilaahailallahu rabbul 'arsyil 'adziim
Laa ilaahailallahu rabbussamaa waati wa rabbul ardhi wa rabbul 'arsyil kariim